Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Kamis, 18 April 2013

Manusia dan Harapan



Setiap manusia pasti mempunyai harapan. Tidak ada manusia yang tidak mempunyai harapan dalam hidup. Tapi tidak sedikit manusia yang hanya mempunyai harapan tanpa berusaha, atau bisa disebut harapan semu. Harapan bisa di capai kalau kita mau berusaha, mempunyai kepercayaan diri dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan diri yang berlebih juga tidak baik. jika seseorang terlalu percaya diri atau biasa kita sebut PD, akan mengakibatkan harapan bisa jadi tidak kita dapatkan malah akan merasa diasingkan orang akan sifat nya itu.
Kepercayaan
B.   APA SEBAB MANUSIA MEMPUNYAI HARAPAN ?
Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langusung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan hidup. Ditengah – tengah manusia lain itulah, seseorang dapat hidup dan berkembang balk fisik/jasmani maupun mental/ spiritualnya. Ada dua hal yabg mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat.Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam din manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan, bcrkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua. Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, bergembira, dan sebagainya. Seperti halnya orang yang menonton Pertunjukan lawak, mereka ingin tertawa, pelawak juga mengharapkan agar penonton tertawa terbahak-bahak. Apabila penonton tidak tertawa, harapan kedua belah pihak gagal, justru sedihlah mereka. Kodrat juga terdapat pada binatang dan tumbuh-tumbuhan, karena binatang dan tumbuhan perlu makan, berkembang biak dan mati. Yang mirip dengan kodrat manusia ialah kodrat binatang, walau bagaimanapun juga besar sekali perbedaannya. Perbedaan antara kedua mahluk itu, ialah bahwa manusia memiliki budi dan kehendak. Budi ialah akal, kemampuan untuk memilih. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan, sebab bila orang akan memilih, ia harus mengetahui lebih dahulu barang yang dipilihnya. Dengan budinya manusia dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, dan dengan kehendaknya manusia dapat memilih. Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan clan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lain. Dengan kodrat ini, maka manusia mempunyai harapan. Dorongan kebutuhan hidup. Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bennacani-macant kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besamya dapat dibedakan atas : kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmaniah misalnya ; makan, minum, pakaian, rumah. (sandang, pangan, dan papan), ketenangan, hiburan, dan keberhasilan. Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan, kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisilc/jasmaniah maupun kemampuan betpikimya. Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
Sebab manusia mempunyai harapan?
Menurut kodaratnya, manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak luput dari pergaulan hidup. 
Dua hal yang mendorong manusia bergaul dengan manusia lain yaitu:

1. Dorongan kodrat
Kodrat adalah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan Tuhan. Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan 
atau harapan, misalnya menangis, tertawa, dan sebagainya.

2. Dorongan kebutuhan hidup
Kebutuhan hidup secara garis besar dapat dibedakan menjadi kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani misalnya makan dan minum. Kebutuhan rohani misalnya ketenangan. Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup maka manusia mempunyai harapan. Pada hakikatnya harapan adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Gairah Mengatasi Kesulitan.
Apabila ada seseorang yang secara sengaja maupun tidak sengaja, melakukan kesalahan dalam melaksanakan apa yang sudah menjadi pengharapannya selama ini, maka bisa dikatakan seseorang tersebut mempunyai suatu kesulitan, baik itu secara jasmani maupun rohani, secara rohani biasanya di tandai dengan adanya rasa gelisah dan kesusahan, saya pribadi menyebutnya dengan si penjahat kembar, mengapa demikian? Karena jika rasa gelisah muncul, pasti rasa susah juga akan muncul, demikian juga sebaliknya, tergantung siapa yang akan muncul duluan.
Jika si penjahat kembar ini muncul, dan di biarkan secara terus menerus di dalam diri pribadi kita, maka tidak menutup kemungkinan secara perlahan – lahan jasmani kita juga akan ikut terganggu dengan adanya kedua hal tersebut, sehingga secara tidak sadar akan melakukan kegiatan, sering melamun, kurang tidur yang berakibat terkena penyakit insomnia, kurang makan, dan lain sebagainya. Yang mana dari kegiatan tadi sangat merugikan ragawi kita sendiri, dan dapat berakibat pada serangan berbagai penyakit, mulai dari ringan sampai kronis, bahkan berujung kematian.
Sebagai contoh dalam kehidupan nyata, ada sepasang remaja yang sedang berpacaran, kegiatan remaja ini sebenarnya wajar, karena ingin mendapatkan hak kewajiban untuk mencintai dan dicintai, dengan harapan dapat berjalan sebagai sepasang kekasih sampai menuju ke tingkat yang tertinggi, yaitu pernikahan. Tetapi di dalam perjalanan mereka, karena suatu alasan tertentu mereka harus berpisah, kejadian ini membuat salah satu dari mereka merasa putus harapan, dan sering merasa gelisah serta bersusah hati, yang secara tidak sadar melibatkan kesulitan yang begitu menggangu dalam keseharian, terlebih lagi jika yang mengalami kejadian ini merupakan seorang yang sudah cukup umur untuk menganjak ke jenjang pernikahan, sehingga dapat menjadikan sebagai suatu tekanan batin yang berat.
Dalam situasi yang demikian sulit, karena merasa sangat tertekan, seseorang tadi sebenarnya dapat membangkitkan gairah dalam mengatasi kesulitan yang dialaminya secara positif maupun secara negatif.
Kenyataan yang terjadi dalam masyarakat kemampuan untuk membangkitkan gairah mengatasi kesulitan pada contoh diatas lebih memiliki kecenderungan pada yang negatif, yaitu dengan cara membuang semua kesulitan dengan melampiaskan pada kegiatan atau hal – hal tertentu yang sifatnya merugikan diri sendiri. Sebagai contoh seseorang tadi melampiaskan semua permasalahannya dengan mengatakan kepada semua orang untuk selalu menunggu orang yang sudah meninggalkannya, dengan demikian sulit baginya untuk mendapatkan kembali pasangan yang lain, yang mungkin bisa lebih cocok dan mengerti tentang keadaan dirinya. Cara negatif yang lain dan lebih parah, tetapi sering terjadi belakangan ini adalah dengan jalan bunuh diri, yang tentu saja tindakan ini teramat sangat banyak yang menentang, baik itu dalam norma masyarakat maupun dalam nilai Agama.
Apabila seseorang yang mengalami kesulitan tadi dalam membangkitkan gairah untuk mengatasi kesulitan tersebut dengan sikap positif, yang dimaksud adalah tindakan atau sikap tersebut tidak menimbulkan kerusakan atau kerugian pada dirinya, maka seseorang tadi dapat melampiaskan pada kegiatan yang positif pula, contohnya dengan melatih akal dan pikiran yang dimilikinya, dengan cara berpikir secara rasional dan logis, bahwa sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak terlepas dari kehendak Tuhan, karena kita pada hakikatnya merupakan makhluk ciptaanNya. Bila seseorang tadi mampu untuk mengasah perasaan dan kemauannya maka bukan tidak mungkin rasa keakuan yang dimiliki pada awal mulanya akan hilang secara bertahap, dan terganti dengan cara pemikiran yang lebih jernih, untuk proses selanjutnya secara perlahan – lahan mungkin akan menyadari kalau yang namanya perpisahan itu wajar adanya, karena sudah merupakan hukum alam, di mana ada pertemuan disitu pula ada perpisahan, dimanapun dan kapanpun, sehingga dalam diri kita harus selalu untuk menerima kenyataan yang ada di dalam kehidupan sehari – hari.
Saat kesulitan yang dialami oleh seseorang tadi sedikit demi sedikit teratasi, maka tidak menutup kemungkinan bagi seseorang tersebut untuk melakukan berbagai macam kegiatan yang positif, sambil membuka diri untuk mencari orang lain sebagai pengganti yang telah pergi sebagai pengisi dari kekosongan hidupnya selama masa penantian.



0 komentar:

Poskan Komentar